Peristiwa

BNPB Laporkan Banjir, Karhutla, dan Kekeringan pada 12–13 Oktober

×

BNPB Laporkan Banjir, Karhutla, dan Kekeringan pada 12–13 Oktober

Sebarkan artikel ini
Kondisi lahan yang terbakar di Kelurahan Surutanga, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (12/10). (Dok. BPBD Kota Palopo)
Kondisi lahan yang terbakar di Kelurahan Surutanga, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (12/10). (Dok. BPBD Kota Palopo)

Jakarta | TubinNews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana di berbagai daerah pada 12–13 Oktober 2026. Banjir di Kabupaten Langkat dan Kota Binjai, Sumatera Utara, menjadi perhatian karena berdampak pada ribuan warga.

‎Di Kabupaten Langkat, banjir melanda empat kecamatan setelah hujan deras menyebabkan debit sungai meningkat dan tanggul Paya Bunder jebol pada Minggu (11/10) malam.

‎Pendataan sementara mencatat 835 kepala keluarga (KK) atau 3.439 jiwa terdampak. Sebanyak 310 KK dilaporkan mengungsi. Banjir juga merendam sekitar 835 rumah, merusak dua jembatan, dan mengganggu jaringan listrik.

‎Selain itu, satu orang dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian tim SAR. Hingga Senin (12/10), tinggi muka air berkisar 50–150 sentimeter.

‎Banjir juga melanda Kota Binjai pada Senin (12/10) dini hari. Kenaikan muka air Sungai Bingai hingga sekitar 310 sentimeter memicu genangan di sejumlah wilayah Kecamatan Binjai Selatan dan Binjai Kota.

‎BNPB mencatat sekitar 1.222 KK atau 4.554 jiwa terdampak. Banjir juga merendam sekitar 1.222 rumah dan berdampak pada dua fasilitas umum. Hingga Selasa (13/10), penanganan masih berlangsung.

‎BPBD bersama unsur terkait melakukan pemantauan, evakuasi warga, dan penyaluran bantuan logistik di wilayah terdampak Langkat dan Binjai.

‎Karhutla Terjadi di Sejumlah Daerah

‎Selain banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.

‎Di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, kebakaran menghanguskan sekitar 25 hektare lahan di Desa Taraitak, Kecamatan Langowan Utara, dan Desa Karor, Kecamatan Lembean Timur. Area yang terbakar meliputi perkebunan cengkeh dan kelapa. Petugas berhasil memadamkan api pada Senin (12/10).

‎Di Sulawesi Selatan, kebakaran lahan terjadi di Kota Palopo, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Toraja Utara. Luas lahan yang terbakar masing-masing sekitar satu hektare, 1,5 hektare, dan dua hektare.

Baca Juga :  Pemkab Deli Serdang Perkuat Mitigasi dan Penanganan Darurat Banjir

‎Petugas gabungan berhasil memadamkan api di Palopo dan Pinrang pada hari kejadian. Sementara itu, kebakaran di Toraja Utara baru berhasil dipadamkan pada Selasa (13/10) pukul 02.00 WITA. Penyebab kebakaran tersebut masih diselidiki.

‎Kebakaran lahan juga terjadi di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Senin (12/10). Api membakar sekitar dua hektare lahan sebelum petugas pemadam berhasil mengendalikannya pada pukul 12.00 WIB.

‎Kekeringan Berdampak pada 1.450 Jiwa di Subang

‎Di Jawa Barat, kekeringan melanda empat kecamatan di Kabupaten Subang akibat tidak turunnya hujan dalam waktu lama. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah sumber mata air mengering.

‎Sekitar 400 KK atau 1.450 jiwa terdampak di Kecamatan Ciater, Cipeundeuy, Cisalak, dan Subang.

‎BPBD Kabupaten Subang melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Petugas juga menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Kampung Babakan Waru, Desa Palasari, Kecamatan Ciater, pada Senin (12/10).

‎BNPB Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

‎Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, kekeringan, dan banjir. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan titik api kepada petugas.

“Masyarakat di wilayah terdampak kekeringan perlu menggunakan air secara bijak,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, warga di daerah rawan banjir perlu memantau perkembangan cuaca dan kenaikan muka air sungai. Masyarakat juga diminta mengikuti arahan petugas serta mengutamakan keselamatan saat evakuasi.

‎”Kami meminta kepada masyarakat untuk selalu memantau informasi dan peringatan dini melalui kanal resmi BNPB, BPBD, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) supaya lebih siap dalam menghadapi bencana susulan,” demikian pesan Berton.

Baca Juga :  Curah Hujan Tinggi Sebabkan Kerusakan Jembatan Perintis Garuda di Kelurahan Tukka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *