EkobisEkonomi

AEDF 2026 Dorong Aceh Percepat Hilirisasi dan Siapkan Roadmap Investasi 20 Tahun

×

AEDF 2026 Dorong Aceh Percepat Hilirisasi dan Siapkan Roadmap Investasi 20 Tahun

Sebarkan artikel ini
Pembuka kegiatan dengan tapuk gendang kulit. (Dok. Ist)
Pembuka kegiatan dengan tapuk gendang kulit. (Dok. Ist)

Banda Aceh | TubinNews.com – Pemerintah Aceh mulai mendorong perubahan pola ekonomi daerah. Aceh tidak ingin terus mengandalkan penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.

‎Pemerintah daerah ingin memperkuat hilirisasi dan industrialisasi. Kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas, membuka lapangan kerja, dan memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat Aceh.

‎Plt Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Aceh Economic Development Forum (AEDF) 2026 di Hermes Hotel Banda Aceh, Selasa (6/10/2026).

‎PT Pembangunan Aceh (PEMA) Perseroda menggelar forum tersebut dengan tema “Accelerating Investment and New Industrial Era in Aceh.”

‎Taufik menyebut Aceh memiliki beragam potensi ekonomi. Sektor tersebut meliputi pertanian, perkebunan, kelautan, energi, pariwisata, dan sejumlah komoditas unggulan lainnya.

‎Namun, pemerintah perlu mengelola seluruh potensi itu secara profesional dan berkelanjutan. Dengan begitu, sumber daya daerah dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

‎Taufik menegaskan Aceh perlu mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah.

‎“Jangan sampai sumber daya Aceh keluar dalam bentuk bahan mentah, sementara nilai tambah dan lapangan kerja tercipta di daerah lain,” tegasnya.

‎Ia mendorong pengolahan komoditas dilakukan lebih banyak di Aceh. Langkah itu mencakup sektor pertanian, perkebunan, perikanan, energi, dan sumber daya lainnya.

‎Menurut Taufik, AEDF 2026 harus menghasilkan langkah yang lebih konkret. Forum tersebut diharapkan melahirkan peta jalan investasi, peluang usaha, kepastian regulasi, kemudahan perizinan, serta dukungan infrastruktur.

‎”Kita membutuhkan kolaborasi dengan dunia usaha, perguruan tinggi, perbankan, dan masyarakat untuk menjalankan agenda tersebut,” ungkapnya.

‎PEMA Siapkan Peta Jalan Investasi Jangka Panjang

‎Direktur Utama PT PEMA Perseroda, Faisal Ilyas, mengatakan Aceh memiliki sumber daya yang melimpah. Namun, sebagian potensi tersebut belum menghasilkan nilai tambah maksimal bagi daerah.

Baca Juga :  Pertamina Sapa Pelanggan di Banda Aceh, Apresiasi Pengguna LPG Non Subsidi

‎Ia mencontohkan sektor kelautan dan komoditas pertanian serta perkebunan. Menurut Faisal, Aceh masih banyak menjual hasil sumber daya dalam bentuk bahan mentah.

‎“Kita punya laut yang luas, namun nilai tambah laut kita dinikmati orang luar Aceh. Kita memiliki komoditas pertanian dan perkebunan, tetapi yang kita jual barang mentah,” lanjutnya.

‎Karena itu, PEMA mendorong investasi yang dapat mengembangkan industri pengolahan di Aceh.

‎Faisal mengatakan AEDF 2026 menjadi salah satu langkah awal untuk menyusun arah pembangunan investasi dalam jangka panjang.

‎“Lewat forum ini kita akan membuat roadmap apa yang akan kita lakukan 10 hingga 20 tahun ke depan,” ujarnya.

‎Sebagai perusahaan milik daerah, PEMA juga memiliki peran dalam meningkatkan kontribusi ekonomi Aceh. Faisal menyebut perusahaan tersebut telah menyetorkan dividen sebesar Rp128 miliar kepada Pemerintah Aceh secara akumulatif.

‎”Kami menargetkan peningkatan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Langkah itu menjadi semakin penting di tengah kondisi fiskal daerah dan berkurangnya transfer dari pemerintah pusat,” jelas Faisal.

‎Enam Kerja Sama Investasi

‎AEDF 2026 tidak hanya menjadi forum pembahasan ekonomi. Kegiatan tersebut juga menghasilkan sejumlah kerja sama untuk mendukung pengembangan investasi dan industri di Aceh.

‎PEMA menandatangani kerja sama dengan Tigalapan Investama untuk melakukan kajian bersama mengenai potensi energi terbarukan.

‎Kerja sama lainnya melibatkan Kedah Agro Ausin Berhad. Kemitraan ini mencakup pengembangan agroindustri, perdagangan, agrowisata, logistik, teknologi, peternakan, serta sumber daya manusia.

‎PEMA juga menjalin kerja sama dengan Citaglobal melalui kajian bersama mengenai potensi energi dan bahan bakar berkelanjutan.

‎Di sektor telekomunikasi, PEMA bekerja sama dengan PT Banda Sentra Nasional (BSNS) untuk mengembangkan infrastruktur telekomunikasi di Aceh.

Baca Juga :  Tak Lagi Dibatasi 3 Platform, Begini Syarat Pinjaman Pindar dari OJK

‎Sementara itu, kerja sama dengan PT Indo Surya Galvalume (ISG) mencakup penandatanganan nota kesepahaman dan peluncuran awal pabrik baja ringan. Kerja sama tersebut juga mencakup tenant hebel dan bata pracetak.

‎Berbagai kerja sama tersebut, kata Faisal, menjadi bagian dari upaya Aceh memperkuat industrialisasi.

‎”Dengan penguatan hilirisasi, Aceh menargetkan sumber daya daerah dapat diproses menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan ke luar daerah maupun luar negeri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *