Banda Aceh | TubinNews.com — Semangat sastra kembali menggema di Tanah Rencong melalui gelaran Puitika Tanah Rencong yang berlangsung khidmat di kawasan bersejarah Taman Sari Gunongan, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi perjalanan panjang literasi Aceh yang sarat nilai budaya dan spiritualitas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin untuk mengingat kembali kejayaan sastra Aceh di panggung dunia. Ia menyinggung momentum Temu Penyair Internasional yang pernah menjadikan Banda Aceh sebagai pusat gravitasi sastra global.
“Ingatan kita kembali terbang ke tahun 2016, ketika ratusan penyair dari berbagai negara berkumpul di Aceh. Puisi dari beragam bahasa membuai tanah Hamzah Fansuri dan memperkenalkan wajah Aceh yang damai kepada dunia. Semangat itulah yang ingin kita hidupkan kembali malam ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran tokoh sastra nasional, Taufik Ismail, sebagai inspirasi lintas generasi. Menurutnya, karya-karya Taufik Ismail tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual masyarakat.
“Kami tumbuh dengan puisi beliau, salah satunya ‘Sajadah’ yang begitu membekas. Itu adalah refleksi kerendahan seorang hamba di hadapan Tuhannya,” tambah Dedy.
Lebih lanjut, Dedy menekankan bahwa kedekatan Taufik Ismail dengan Aceh telah terjalin lama, termasuk melalui kontribusinya dalam antologi Selawat tahun 1995 serta kehadirannya saat Aceh dilanda bencana tsunami. Ia menyebut sosok tersebut sebagai jembatan hidup antara kejayaan literasi masa lalu dan masa depan Aceh.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan tiga pesan kolaboratif, yakni kebangkitan sastra melalui penguatan event internasional, sinergi sastra dengan industri perfilman, serta pemerataan kegiatan budaya hingga ke wilayah Barat Selatan, Utara Timur, dan Tengah Tenggara Aceh.
Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa Aceh memiliki posisi penting dalam lanskap sastra Indonesia.
“Puisi adalah ruang yang membangun imajinasi, kepekaan, dan kecintaan terhadap tanah air. Apa yang kita saksikan malam ini adalah bukti bahwa sastra tetap hidup, bahkan di tengah berbagai tantangan,” ujarnya.
Irini juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari kecintaan terhadap Aceh, termasuk dari sosok pendamping Taufik Ismail yang memiliki kedekatan emosional dengan daerah ini. Ia menilai, Puitika Tanah Rencong menjadi refleksi sekaligus penguat semangat para sastrawan Aceh pascabencana.
“Dalam kondisi apa pun, semangat sastrawan Aceh tidak pernah padam. Justru dari situ lahir karya-karya yang semakin membumi dan sarat makna,” tambahnya.
Salah satu pengunjung yang juga seniman asal Banda Aceh, Cek Nas, mengaku terkesan dengan acara tersebut. Ia menyebut momen ini sebagai pengalaman langka dan penuh makna.
“Ini luar biasa. Kami bisa menyaksikan langsung seorang legenda puisi seperti Taufik Ismail. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, penuh nostalgia,” ungkapnya.
Melalui Puitika Tanah Rencong, Aceh kembali menegaskan eksistensinya sebagai salah satu pusat kebudayaan dan sastra yang kaya di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya karya-karya baru yang tidak hanya mengakar pada tradisi, tetapi juga mampu menembus panggung global.

















