Apa yang tampak ringan ternyata menyimpan nilai besar
Buya Yahya
Banda Aceh | TubinNews.com – Idul Fitri selalu datang dengan suasana kemenangan. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, umat Islam menyambut hari raya dengan sukacita. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada tuntunan sunnah Rasulullah SAW yang bisa mengisi pagi Idulfitri dengan makna lebih dalam.
Dalam sebuah kajian, Buya Yahya mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum syiar.
“Penting bagi kita untuk meneladani amalan Rasulullah SAW yang telah dicontohkan dan dijaga oleh para sahabat, sebagaimana tercantum dalam berbagai kitab ulama, termasuk Al-Majmu’ karya Imam Nawawi,” jelas Buya Yahya.
Pagi hari raya dimulai dengan kesucian lahir. Rasulullah SAW mencontohkan untuk mandi sebelum berangkat menuju tempat shalat. Abdullah bin Umar RA dikenal tidak pernah meninggalkan amalan ini. Para ulama sepakat bahwa mandi di hari raya merupakan sunnah yang dianjurkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai bentuk persiapan menyambut momen istimewa.
Setelah itu, umat Islam dianjurkan mengenakan pakaian terbaik. Tradisi ini telah hidup sejak masa sahabat. Dikisahkan, Sayyidina Umar RA pernah menawarkan jubah indah kepada Rasulullah SAW agar dikenakan saat hari raya dan menyambut tamu. Rasulullah SAW menolak jubah tersebut karena berbahan sutra, namun tidak menolak semangat berhias. Dari sini, para ulama memahami bahwa tampil rapi, bersih, dan wangi di hari raya merupakan bagian dari syiar yang dianjurkan.
Hal lain yang sering terlewat adalah makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri. Rasulullah SAW biasa memakan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil sebelum keluar rumah. Amalan ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi penegasan bahwa puasa Ramadan telah berakhir. Dengan makan di pagi hari, umat Islam menunjukkan ketaatan terhadap larangan berpuasa di hari raya.
Perjalanan menuju tempat shalat pun memiliki nilai tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan berjalan kaki jika memungkinkan. Langkah demi langkah menuju lapangan atau masjid menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi. Di sepanjang jalan, umat Islam saling menyapa dan menebar kegembiraan, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Menariknya, Rasulullah SAW juga memiliki kebiasaan mengambil rute berbeda saat berangkat dan pulang dari shalat Id. Amalan ini mengandung hikmah agar lebih banyak tempat menjadi saksi ibadah, sekaligus memperluas syiar Islam di tengah masyarakat.
Sesampainya di tempat shalat, jika pelaksanaan dilakukan di masjid, jamaah dianjurkan menunaikan shalat Tahiyatul Masjid sebelum duduk. Setelah shalat Id usai, Rasulullah SAW memberikan khutbah. Meski jamaah diperbolehkan pulang, tetap duduk menyimak khutbah hingga selesai dinilai lebih utama sebagai penyempurna ibadah di hari kemenangan.
“Hal tersebut merupakan amalan-amalan sederhana, tetapi membuat Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan penuh kebahagiaan, tetapi juga momentum memperdalam makna ibadah,” pungkas Buya Yahya.

















