Banda Aceh | Tubinnews.com – Siang itu, terik matahari menjulang tinggi di langit, menyelimuti kawasan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di antara pengunjung yang lalu lalang, fotografer-fotografer tampak berkeliling dengan kamera menenenteng di leher dan digenggam di tangan. Sesekali, mereka menghampiri pengunjung untuk menawarkan jasa foto.
Teuku Kadri, pria asal Aceh Selatan itu menjadi salah satu fotografer yang sehari-hari mencari nafkah di kawasan Masjid Raya tersebut. Baginya, masjid ini bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang ibadah yang membuatnya tetap menjalani profesi ini.
Kenyamanan bekerja di lingkungan masjid itu pula yang membuatnya tetap bertahan.
“Kalau kesan mungkin sambilan mencari rezeki kan bisa shalat ya, dan yang membuat saya betah menjadi fotografer di mesjid raya ini karena sambil kerja kita bisa ibadah,” ungkapnya saat diwawancara oleh Tubinews di bawah gapura, depan kolam masjid, (1/1/2026).
Sambil berdiri dan memegang kamera, pria yang sudah bekerja dari 2013 itu menjelaskan bahwa jumlah fotografer yang beraktivitas di Masjid Raya cukup banyak, namun kehadiran mereka tidak selalu bersamaan setiap hari. Ia menggambarkan situasi keluar-masuk para fotografer yang bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan lain di luar kawasan masjid.
“Kalo kami ramai disini, kadang-kadang masuk ada yang enggak, kalo ada kegiatan diluar gak masuk, kalo gak ada ya masuk di masjid. Ramai kami, kalo dihitung anggota total semua ada 70 lebih,” ujarnya.
Para fotografer tersebut memiliki studio sebagai pusat aktivitas dan cetak foto milik organisasi. Kadri mengatakan lokasi studio yang menjadi tempat bernaung para fotografer Masjid Raya tidak terlalu jauh.
“Kalau studio di depan Zikra, arah jalan mau ke Blang Padang, punya organisasi,” ujarnya sambil menunjukkan tangan kejalan menuju studio.
Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, para fotografer memiliki jam kerja fleksibel. Kadri menjelaskan bahwa waktu masuk dan pulang bergantung pada kondisi masing-masing.
“Kalau jam masuknya tergantung, ada yang masuk jam 10 pagi, ada yang masuk siang aja, kalau pulangnya sore,” jelasnya.
Soal sistem kerja, Ia menambahkan bahwa tidak ada pembagian hasil antarfotografer. Setiap orang bekerja secara mandiri dan bertanggung jawab atas hasilnya sendiri. Ia juga mengatakan untuk penghasilan tidak menentu per harinya.
“Untuk komisinya siapa yang dapat potret ya untuk dia, tidak ada bagi-bagi hasil, untuk penghasilan tidak menentu per harinya, kadang pernah 0 rupiah dan kadang sampai 200 ribu rupiah, tergantung giatnya kita,” tambahnya.
Bagi Kadri, pekerjaan sebagai fotografer adalah pekerjaan utamanya. Selain di Masjid Raya ia juga bekerja freelance di beberapa kawasan luar masjid.
“Ya ini pekerjaan utama saya, sebagai fotografer. Selain di sini ada juga di tempat lain seperti wisuda atau di sekolah-sekolah, itu dicari sendiri freelance,” pungkasnya.
Dalam menawarkan jasa kepada pengunjung, pendekatan yang dilakukan pun tidak memaksa. Kadri menekankan pentingnya komunikasi yang baik agar proses foto berjalan dengan suasana yang menyenangkan.
“Kalau misalnya ada datang konsumen tawarin, misalnya kalau gini boleh buk, gini bisa juga, ya kek gitulah. Yang penting kami interaksi ini sama-sama senang,” ujarnya dengan suara khas orang menawarkan jasa fotografi.
Terkait tarif, jasa foto yang ditawarkan disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung, baik file digital maupun cetakan.
“Kalau file aja biasanya 10 ribu rupiah, kalau di cetak tergantung besar kecilnya, harganya mulai 15 ribu rupiah sampai 40 ribu rupiah, untuk file kalau sama dengan dicetak itu gratis,” tutupnya.
Di bawah langit, kubah dan payung-payung Masjid Raya Baiturrahman, kamera dan ibadah berjalan beriringan. Di sela lantunan azan dan langkah pengunjung, Teuku Kadri dan rekan-rekannya terus menjemput rezeki tanpa meninggalkan ruang untuk beribadah.















