Jakarta | TubinNews.com — Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal itu tercermin dari akumulasi aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai lebih dari Rp200 triliun hingga awal Oktober 2026.
Juda menyampaikan hal tersebut saat menghadiri UOB Indonesia Economic Outlook 2027 di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Ia menjelaskan, meskipun terjadi arus keluar pada instrumen saham, aliran dana masuk ke SBN dan SRBI tetap kuat.
“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia,” ungkap Wamenkeu.
Menurut Juda, kepercayaan investor turut didukung kinerja ekonomi domestik. Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,5%. Sementara itu, inflasi pada September tercatat sebesar 3,28% dan pertumbuhan investasi pada triwulan II mencapai hampir 7%.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah terus mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen perlindungan masyarakat sekaligus pendorong perekonomian.
Hingga September 2026, defisit APBN tercatat sebesar 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan penerimaan negara tumbuh lebih dari 25%.
Namun, kenaikan harga minyak global diperkirakan mendorong defisit APBN 2026 menjadi 2,85% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar 2,68%.
Memasuki 2027, pemerintah menargetkan defisit APBN sebesar 2,4% terhadap PDB dan pertumbuhan ekonomi mencapai 6%. Untuk mendukung sasaran tersebut, kebijakan fiskal diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, reformasi perpajakan, hilirisasi industri, transformasi digital, dan pengembangan ekonomi hijau.
Juda juga menyampaikan bahwa pemerintah memperkuat sinergi APBN, Danantara, dan sektor swasta untuk mendorong investasi serta industrialisasi. APBN difokuskan pada pelayanan publik dan prioritas pembangunan, sedangkan Danantara diarahkan untuk mendukung investasi strategis yang diharapkan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.
“Keduanya diharapkan bersinergi untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi, dengan sektor swasta sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi,” tutup Juda.






