Aceh Barat ||Tubinnews.com ||Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Barat memperkuat komitmen dalam memperbaiki sistem tata kelola sampah di wilayah tersebut. Tidak hanya fokus pada penanganan di hulu, DLH kini memprioritaskan pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mata Ie guna menciptakan sistem pembuangan yang lebih higienis dan berkelanjutan.
Langkah strategis ini diambil bertepatan dengan adanya lonjakan volume sampah yang cukup drastis pasca perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Barat, Dr. Kurdi, memaparkan bahwa berdasarkan data di lapangan, terjadi kenaikan timbulan sampah rumah tangga sebesar 10 hingga 20 persen. Peningkatan ini mulai terpantau sejak tiga hari menjelang hari raya (H-3) hingga dua hari setelah lebaran (H+2).
Kecamatan Johan Pahlawan menjadi titik paling krusial dalam kenaikan ini. Sebagai pusat ekonomi dan mobilitas warga di Meulaboh, volume sampah di kecamatan ini melonjak dari rata-rata normal 28 ton per hari menjadi 36 ton per hari.
”Secara akumulatif, selama periode Idul Fitri ini, total rata-rata sampah yang masuk ke sistem pengelolaan TPA Mata Ie di seluruh Aceh Barat mencapai 98 ton setiap harinya,” ujar Dr. Kurdi dalamn keterangannya, Jum’at (10/4/2026).
Menyikapi lonjakan tersebut, kata Kurdi, DLH tidak membiarkan adanya penumpukan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berpotensi mengganggu estetika kota dan kesehatan masyarakat. Sebanyak 38 rute armada dikerahkan secara intensif dengan jam operasional yang diperpanjang.
”Personel dan armada bekerja dalam ritme yang ditingkatkan, mulai dari pagi hari hingga malam hari. Kami ingin memastikan kota tetap bersih meskipun aktivitas konsumsi masyarakat sedang berada di puncaknya,” tegasnya.
Kurdi menyebutkan agenda besar yang kini tengah dijalankan adalah optimalisasi TPA Mata Ie. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang memperketat standar pengolahan sampah berbasis sanitary landfill.
“DLH kini rutin melakukan penimbunan tanah (layer) pada tumpukan sampah aktif sebanyak dua kali dalam sebulan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir bau tidak sedap serta mencegah berkembang biaknya lalat dan vektor penyakit lainnya,” kata Kurdi
Selanjutnya, kata dia, pengolahan lindi yang mencakup perbaikan akses pintu masuk untuk memperlancar arus bongkar muat armada. Selain itu, optimalisasi sistem pengolahan limbah cair atau lindi (leachate) menjadi prioritas agar degradasi sampah tidak mencemari lingkungan sekitar maupun air tanah,” tambahnya
Kurdi menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberhasilan tata kelola lingkungan ini. Menurutnya, pembenahan infrastruktur yang dilakukan pemerintah harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat.
”Masalah kebersihan itu tidak cukup dengan tugas dinas DLH saja, tapi perlu kolaborasi dengan semua stakeholder. Kesadaran untuk mengelola sampah dari tingkat rumah tangga adalah kunci utama agar kebersihan kota tetap terjaga secara berkelanjutan,” tutupnya.

















