Banda Aceh | TubinNews.com – Tidak semua kegelisahan mampu dituntaskan oleh limpahan harta. Tidak pula setiap beban dapat diringankan oleh tingginya jabatan. Ada masa ketika dada terasa sesak tanpa alasan yang jelas, sementara langkah mendadak terasa berat meski jalan di depan terbentang luas.
Saat segala cara terasa tak lagi cukup, barulah banyak yang menyadari bahwa ketenteraman sejati bukan terletak pada kekuasaan atau kekayaan, melainkan pada kedekatan spiritual.
“Kalau hati terasa berat, jangan salahkan dunia. Periksa zikir kita,” ujar Tgk. Ali Akbar dalam tausiyahnya pada malam ke-13 Ramadhan di Mesjid Al-‘Ala, Banda Aceh.
Kalimat singkat itu menjadi pintu menuju pembahasan tentang zikir yang disebut sebagai kalimat penggetar Arsy. Ia menegaskan, kalimat thayyibah bukan sekadar lafaz yang diulang, tetapi pujian penuh makna yang menguatkan hati.
“Di dalamnya itu terhimpun pujian agung, pengakuan ketundukan, serta jejak sejarah panjang yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta. Setiap lafaz mengandung makna yang hidup, menyentuh dimensi ruhani, dan menggetarkan hati yang melafalkannya dengan penuh kesadaran” ucap ujar Tgk. Ali.
Ia kemudian membacakan rangkaian tersebut:
سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ، وَٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ، وَلَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ، وَٱللَّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.
Menurut penuturannya, kalimat
سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ
Artinya: Maha Suci Allah
Merupakan tasbih yang mengagungkan dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan. Dalam kisah yang disampaikannya, ketika Allah menciptakan langit tanpa tiang, para malaikat merasakan betapa besar amanah dan kuasa yang menyertainya.
“Di situlah Allah mengilhamkan tasbih. Dengan kalimat itu, beban yang semula terasa berat berubah menjadi ringan,” kata Tgk. Ali.
Ia kemudian melanjutkan kisah itu dengan membawa jamaah pada awal penciptaan manusia. Setelah fase penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan Nabi Adam AS sebagai khalifah di muka bumi. Saat ruh ditiupkan ke dalam jasadnya dan kehidupan mulai mengalir dalam dirinya, kalimat pertama yang terucap dari lisan Nabi Adam adalah:
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ
Artinya: Segala puji bagi Allah.
Jika tasbih mengajarkan kita mensucikan Allah, maka tahmid mengajarkan kita untuk selalu mengakui nikmat-Nya, sekecil apa pun itu.
Perjalanan waktu terus berlanjut. Ujian demi ujian datang silih berganti dalam sejarah para nabi. Ketika dakwah ditolak dan kaumnya berpaling, Nabi Nuh AS tetap berdiri teguh. Di tengah badai penolakan dan datangnya banjir besar, yang menguatkan hatinya bukanlah kekuatan manusia, melainkan kalimat tauhid:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ
Artinya: Tiada Tuhan selain Allah.
“Kalimat itu adalah penegasan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Di saat seluruh dunia terasa runtuh, tauhid menjadi jangkar yang menahan iman agar tidak goyah,” jelas Tgk. Ali.
Ia menuturkan, ujian yang tak kalah berat juga dialami Nabi Ibrahim AS. Ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, sebuah perintah yang mengguncang rasa sebagai seorang ayah, beliau tetap tunduk tanpa ragu. Dan saat Allah menunjukkan kebesaran-Nya dengan menggantikan pengorbanan itu, terucaplah kalimat takbir:
ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya: Allah Maha Besar.
Takbir itu menjadi simbol bahwa sebesar apapun ujian, Allah jauh lebih besar. Sebesar apa pun ketakutan manusia, kekuasaan Allah melampaui segalanya.
Dari tasbih, tahmid, tauhid, hingga takbir—semuanya menyatu menjadi rangkaian zikir yang agung. Bukan lahir dari suasana nyaman, tetapi dari ujian, ketundukan, dan pengakuan akan kebesaran Allah.
Rangkaian itu kemudian disempurnakan oleh Muhammad ﷺ dengan kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ ٱلْعَلِيِّ ٱلْعَظِيمِ
Artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Menurut Tgk Ali Akbar, di sinilah letak kerendahan seorang hamba. Setelah memuji, bersyukur, dan mengagungkan Allah, manusia akhirnya sampai pada pengakuan paling jujur: bahwa dirinya lemah dan sepenuhnya bergantung kepada-Nya.
Zikir itu menjadi cahaya di tengah kegelapan. Dari pengakuan kesalahan dan tauhid yang tulus, datanglah pertolongan Allah.
Di situlah, menurut Tgk Ali Akbar, zikir benar-benar menunjukkan kekuatannya. Ia bukan sekadar lafaz yang diulang-ulang, tetapi nafas iman yang menghidupkan hati. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menghidupkan kembali kalimat-kalimat ini, bukan hanya di lisan, tetapi di dalam jiwa.
“Ketika dunia terasa gelap, yang paling menenangkan bukanlah gemerlapnya kehidupan, ingat jamaah bukan gemerlapnya, melainkan kalimat-kalimat yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya,” pungkasnya.

















