Oleh : Dr. Erizar, M.Ed ,C.PS,C.HL (Akademisi STAIN Meulaboh/ Wakil Ketua PC NU Aceh Barat)
Tubinnews.com || Ada sesuatu yang berbeda kini hadir di penghujung Ramadan. Jika dahulu malam-malam terakhir bulan suci ini diisi dengan linangan air mata di sajadah, lantunan ayat yang mengalir dari masjid ke gang-gang kampung, dan barisan orang yang berdesakan mengejar malam seribu bulan, maka kini yang hadir adalah sesuatu yang lain: notifikasi diskon, troli belanja, dan keramaian di pusat perbelanjaan hingga dini hari.
Di Aceh, tanah yang menyebut dirinya Serambi Mekkah, fenomena ini terasa lebih menyentuh. Sepuluh malam terakhir Ramadan yang dalam tradisi Islam diyakini menyimpan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan kini bersaing ketat dengan diskon besar-besaran pakaian lebaran, promo elektronik, dan antrean panjang di toko-toko yang tetap buka hingga subuh.
“Masjid yang biasanya penuh sesak di malam-malam ganjil kini terasa lengang. Shaf yang tak lagi rapat, dan suara imam yang bergema di ruang yang separuh kosong.”
Di sudut lain kota, warung kopi tetap ramai. Asap rokok bercampur uap kopi, obrolan tentang harga baju yang turun 50%, rekomendasi toko mana yang paling murah semua menjadi topik hangat. Tidak ada yang berbicara tentang tanda-tanda Lailatul Qadar. Tidak ada yang membahas keutamaan itikaf. Yang ada hanya kalkulasi belanja dan perbandingan harga.
Fenomena yang Perlu Kita Renungkan
Bukan berarti berbelanja di Ramadan adalah kesalahan. Islam tidak melarang umatnya mempersiapkan kebutuhan Idulfitri. Namun persoalannya bukan pada belanjanya — persoalannya ada pada prioritas yang telah bergeser secara diam-diam dan tanpa kita sadari.
Ketika seorang ibu rela berdiri berjam-jam di antrean kasir demi sepatu diskon, namun tak sanggup berdiri satu rakaat witir tambahan di malam ganjil ada sesuatu yang telah terbalik. Ketika seorang ayah begadang hingga pukul tiga pagi menjelajahi toko demi toko, namun enggan menginjakkan kaki ke masjid di jam yang sama untuk qiyamul lail ada sesuatu yang patut kita tanyai dalam diri kita.
Lantunan ayat suci yang dulu terdengar dari tiap sudut rumah dan masjid kini berganti dengan notifikasi aplikasi belanja. Tadarus yang menjadi tradisi kini tinggal tradisi di atas kertas. Masjid-masjid di Aceh yang sejak awal Ramadan ramai kini berangsur sepi justru di saat yang seharusnya paling ramai di saat Lailatul Qadar kemungkinan besar sedang mengetuk pintu.
“Lailatul Qadar tidak datang dengan pengumuman. Ia hadir diam-diam, dan hanya mereka yang berjagalah yang berkesempatan menemuinya.”
Ini bukan semata-mata soal individu yang lemah iman. Ini adalah cerminan sebuah arus budaya yang mengalir deras budaya konsumsi yang begitu cerdas menyelipkan dirinya ke dalam momen-momen paling sakral sekalipun. Ramadan, yang sejatinya adalah ujian pengendalian diri, kini justru menjadi puncak musim konsumsi. Kapitalisme tidak memandang bulan suci; ia hanya memandang peluang.
Solusi: Kembali kepada yang Esensial
Kritik tanpa solusi hanyalah keluhan. Maka mari kita pikirkan bersama apa yang bisa dilakukan oleh diri sendiri, oleh keluarga, dan oleh masyarakat.
Pertama, mulailah dari pemahaman yang benar. Lailatul Qadar bukan sekadar cerita indah dalam kitab kuning. Ia adalah malam nyata, malam yang nilai amalnya setara lebih dari 83 tahun ibadah. Pemahaman ini harus kembali dihidupkan di pengajian, di mimbar Jumat, di meja makan keluarga, di status media sosial. Jangan biarkan ia hanya menjadi pengetahuan tanpa rasa.
Kedua, buat komitmen keluarga. Sepakati bersama bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu keluarga untuk ibadah, bukan untuk pusat perbelanjaan. Atur waktu belanja di siang hari atau di awal Ramadan. Jadikan malam-malam ganjil sebagai momen yang ditunggu-tunggu, bukan yang dihindari karena kelelahan berbelanja.
Ketiga, masjid harus tampil lebih hidup. Para pengurus masjid dan ulama perlu menghadirkan program itikaf dan qiyamul lail yang menarik bukan hanya salat berjamaah, namun juga tausiah ringan, tadarus bersama, dan suasana yang hangat sehingga orang betah berlama-lama. Masjid yang sunyi bukan hanya kehilangan jamaah; ia kehilangan perannya sebagai jangkar spiritual masyarakat.
Keempat, bijak bermedia sosial. Alih-alih mengisi beranda dengan konten promo dan diskon, isi dengan pengingat tentang keutamaan malam-malam terakhir Ramadan. Satu postingan yang menyentuh hati bisa menggerakkan satu orang untuk bangkit dari tidurnya dan menuju sajadah.









