Pernahkah kita membayangkan, meski sudah rajin shalat tarawih, khatam Al-Qur’an, dan bersedekah, namun langkah kita terhenti tepat di depan pintu surga? Kenyataan pahit inilah yang diingatkan oleh Prof. Dr. Tgk. H. Yasir Yusuf, M.A. dalam dakwahnya di Masjid Haji Keuchik Leumiek, Banda Aceh, pada malam ke-7 Ramadhan 1447 H, Rabu (24/02/2026)
Dalam uraiannya, beliau menegaskan bahwa utang (Ad-Dain) bukan sekadar urusan finansial di dunia, melainkan beban berat yang dibawa hingga ke hadapan Allah SWT.
Penghalang bagi Para Syuhada
Satu hal yang paling mengejutkan dari materi ceramah tersebut adalah status orang yang mati syahid. Rasulullah SAW bersabda bahwa semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni oleh Allah, kecuali satu hal: utang.
Prof. Yasir menceritakan kisah dua sahabat yang berjihad bersama. Salah satunya meninggal sebagai syahid, sementara yang lain meninggal setahun kemudian di atas tempat tidurnya. Namun dalam sebuah mimpi yang benar, justru sahabat yang meninggal belakangan (bukan syahid) masuk surga lebih dulu. Mengapa? Karena sang syahid masih tertahan langkahnya akibat utang yang belum lunas.
Jiwa yang Tergantung
Selama utang belum diselesaikan, jiwa seorang mukmin akan terus “tergantung” dan tidak akan tenang. Beliau mengingatkan agar kita tidak meremehkan utang sekecil apa pun, termasuk utang di kantin sekolah masa lalu yang mungkin terlupakan.
Konversi Amal di Akhirat: Menjadi Orang yang Bangkrut (Muflis)
Mengapa utang bisa menghapus amal shalih? Prof. Yasir menjelaskan bahwa di akhirat nanti tidak ada lagi mata uang Rupiah atau Dinar untuk melunasi kewajiban.
- Barter Amal: Orang yang berutang akan membayar pemberi utang dengan amal shalat, puasa, dan zakatnya.
- Transfer Dosa: Jika amal shalih sang penghutang sudah habis sementara utangnya belum lunas, maka dosa-dosa orang yang menghutanginya akan dipindahkan ke pundaknya. Inilah kondisi yang disebut Rasulullah sebagai orang yang muflis atau bangkrut.
Adab dan Solusi: Belajar dari Kemuliaan Rasulullah SAW
Islam memang memperbolehkan utang untuk kebutuhan yang sangat mendesak, namun bukan untuk gaya hidup mewah. Terkait hal ini, Prof. Yasir menceritakan bagaimana Rasulullah SAW menunjukkan integritas dan akhlak yang luar biasa saat berurusan dengan utang-piutang.
Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah berutang seekor unta berumur dua tahun kepada seorang Yahudi. Ketika tiba waktu pelunasan, unta dengan umur yang sama tidak ditemukan, melainkan unta yang lebih besar dan berumur tiga tahun. Rasulullah SAW tetap memerintahkan untuk membayar utang tersebut dengan unta yang lebih baik tersebut.
Beliau menegaskan bahwa melebihkan pembayaran utang sebagai bentuk apresiasi dan kemuliaan akhlak (tanpa perjanjian di awal) adalah sebaik-baiknya cara melunasi utang, dan hal tersebut bukanlah riba. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam melunasi utangnya,” ujar Prof. Yasir mengutip pesan Rasulullah SAW.
Pesan penutup dari ceramah ini sangat jelas: segeralah melunasi utang selagi masih ada waktu di dunia, agar amal shalih yang kita kumpulkan dengan susah payah tidak habis tak tersisa di pintu surga.
















