TubinNews.com – Di sebuah lapak kecil di tepi jalan, Pak Abdul Madi (50) duduk menunduk dengan sepasang sepatu di pangkuannya. Tangannya terus bergerak, menarik benang tebal dan menusukkan jarum besar ke sol sepatu. Di tengah bising kendaraan yang lalu-lalang, ia tetap bekerja dengan ritme yang sama, seperti yang telah ia lakukan sejak 2005.
“Sekarang pelanggan nya agak sepi,” katanya pelan, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang menjahit sepatu milik pelanggan.
Bagi Abdul Madi, pekerjaan ini bukan sekadar memperbaiki alas kaki yang rusak. Menjahit sol sepatu adalah pekerjaan dengan risiko fisik yang nyata. Jarum besar yang ia gunakan kerap melukai tangannya.
“Kalau kena jari, tembus dia. Harus dibawa ke rumah sakit,” ujarnya singkat.
Luka-luka itu kini tergantikan oleh kapalan dan pengalaman—jejak panjang dari pekerjaan yang ia jalani bukan karena banyak pilihan, melainkan keharusan untuk meneruskan hidup.
Menjahit sepatu menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan modal kecil dan keahlian yang ia miliki. Ia tak memiliki ijazah tinggi dan tak punya modal besar untuk memulai usaha lain.
“Karena kita enggak sekolah, jadi enggak berpengalaman di bidang lain,” katanya jujur.
Di balik kesederhanaan lapaknya, Pak Abdul Madi memikul tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Ia memiliki tiga anak. Dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara anak sulungnya kini menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), sebuah perguruan tinggi swasta.
Penghasilan dari menjahit sepatu harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah adik-adiknya, dan ongkos kuliah sang anak.
Tanggung jawab itu terasa paling berat ketika pelanggan mulai jarang datang. Hari-hari sepi menjadi ujian tersendiri.
“Kalau lagi sepi pelanggan, palingan kita tahan lapar. Ya kan? Enggak ada uang untuk bawa pulang ke rumah. Nanti anak-anak minta uang, kita kan punya anak.” ujarnya jujur.
Ada hari-hari ketika tak satu pun pelanggan datang. Tak ada uang yang bisa dibawa pulang. Namun lapak itu tetap ia buka setiap hari, karena harapan tak boleh ikut tutup.
Pendapatan Pak Abdul Madi tak menentu. Kadang bisa di atas seratus ribu rupiah sehari, kadang jauh di bawah itu.
“Cukup-cukup aja, kalau tidak cukup ya di cukupkan. Enggak ada yang lebih,” katanya.
Ia tak pernah bermimpi membeli mobil atau hidup berlebih. Baginya, selama dapur tetap mengepul dan anak-anak bisa terus sekolah, itu sudah cukup.
Dari benang-benang kasar dan jarum besar yang tak pernah berhenti bergerak itu, ia menabung sedikit demi sedikit, cukup untuk membuka jalan masa depan anaknya. Meski pelanggan kadang sedikit, Pak Abdul Madi tetap menjahit.
Bukan sekadar sol sepatu yang ia kuatkan, tetapi juga harapan, bahwa kerja keras, sekecil apa pun, dapat membawa keluarganya bertahan dan melangkah ke depan.









