Al kisah, di sebuah hutan bernama Nusantara Raya, hiduplah seekor Singa yang baru saja naik takhta. Tubuhnya gagah, surainya lebat, dan riwayatnya panjang. Konon ia pernah menjadi panglima pasukan rimba. Karena latar itulah ia kerap dipuji sebagai pemimpin tegas, seteguh batang beringin tua yang sulit dibengkokkan angin.
Namun, bagi sebagian penghuni rimba, sikapnya itu acap terasa seperti keras kepala. Sang Singa lebih sering menginjak semak belukar daripada membersihkannya.
Suatu hari, badai besar melanda wilayah tersebut. Pohon-pohon tumbang, sarang-sarang hancur, sungai meluap ke mana-mana. Rubah, burung, dan tikus dan hewan kecil lainnya berlarian mencari perlindungan. Kancil, sang hewan yang cerdik, memberanikan diri untuk berbicara.
“Ini bencana besar,” katanya pada Sang Raja.
Dari dalam guanya, Singa menjawab tenang sambil mengibaskan telinga, “Ah, ini hanya hujan biasa. Tidak perlu disebut bencana besar. Kita kuat, kok.”
Tak lama kemudian, beberapa burung dari hutan lain datang menawarkan bantuan ranting untuk berteduh, makanan, dan tenaga. Singa menggeleng, “Tidak usah. Kita bisa sendiri. Nanti kelihatan lemah.”
Kancil mulai melihat kejanggalan. Katanya gua-gua akan tersedia dalam tiga hari, nyatanya para hewan tidur di bawah pohon sambil menahan dingin. Katanya makanan akan melimpah, tapi mereka harus tahan perut.
Kancil mengernyit, “Ini janji,” gumamnya, “atau dongeng pengantar tidur?”
Ketika hewan-hewan kecil meminta kepastian, yang datang bukan penjelasan, justru kawanan buaya berwajah sangar dan berbadan besar. Mereka menggertak, mengusir, bahkan membungkam hewan-hewan yang berisik.
Kancil menarik napas panjang, “Kalau begini,” pikirnya, “kami akan terus menderita.”
Sang Singa tetap tinggal nyaman di gua besarnya di puncak gunung. Daging segar tersedia, hangat, dan nyaman. Kancil makin sulit berbaik sangka.
Para hewan memilih Singa sebagai pemimpin. Gelarnya mentereng, jenisnya selalu dikaitkan dengan gelar raja, dan mereka sering digadang-gadang sebagai sosok paling bijaksana di rimba, serta kuat. Ia bisa melindungi mereka.
Sekarang para Hewan sudah putus asa. Tidak ada hewan yang menjadi tempat tumpuan mereka, sebab tumpuan mereka abai begitu saja.
Kancil tidak sanggup melihat ini. Ia mengumpulkan semut, tikus, burung pipit dan hewan lain yang merasa tidak mendapat keadilan.
“Kita memang kecil,” katanya, kemudian menunjuk ke semut. “Ingatlah bagaimana dulu semut bersatu untuk menumbangkan gajah.”
Mereka pun bersabar.
Terus-menurus menguatkan.
Menunggu bulan terpampang dan singa terlelap dalam mimpinya.









