Tapanuli Selatan | TubinNews.com — Yayasan Rumah Aspirasi & Perjuangan Jurnalis Independen (RAPJI) memilih Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sebagai titik awal gerakan perjuangan dan solidaritas bagi jurnalis serta pekerja media di wilayah terdampak bencana alam.
Di daerah yang mengalami dampak bencana cukup parah tersebut, RAPJI bersama sejumlah komunitas jurnalis, di antaranya Komunitas Wartawan Kristen dan JCS Medan, akan menggelar pertemuan dengan jurnalis dan pekerja media. Kegiatan ini sekaligus dirangkai dengan penyaluran bantuan bagi mereka yang terdampak langsung saat menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.
Koordinator sekaligus pendiri RAPJI, Heryanson Munthe, mengatakan bahwa kondisi pascabencana di Tapanuli Selatan memperlihatkan betapa rentannya posisi jurnalis yang tetap bekerja di tengah krisis, namun kerap luput dari perhatian.
“Dalam situasi bencana, jurnalis tetap bekerja di lapangan, tetapi keselamatan dan kesejahteraan mereka sering kali tidak menjadi prioritas. RAPJI ingin hadir di titik itu,” kata Heryanson, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, kegiatan RAPJI di Tapanuli Selatan tidak hanya bersifat seremonial, melainkan juga diarahkan pada kerja-kerja investigasi jurnalistik pascabencana. Fokusnya adalah menggali dampak bencana terhadap masyarakat, sekaligus melihat langsung kondisi kerja jurnalis dan pekerja media di lapangan.
Heryanson menilai, tekanan fisik, psikologis, hingga ekonomi kerap dialami jurnalis ketika meliput bencana, terutama di daerah yang minim dukungan dan fasilitas.
“Selain diskusi dan investigasi jurnalistik, kami juga menyiapkan penyaluran bantuan bagi jurnalis dan pekerja media di sejumlah lokasi yang telah ditentukan panitia. Bantuan ini adalah bentuk solidaritas sekaligus pengakuan atas peran jurnalis dalam situasi krisis,” ujarnya.
RAPJI sendiri merupakan yayasan nirlaba dan independen yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan pers serta perlindungan bagi mereka yang bekerja di sektor informasi publik. Keanggotaannya tidak terbatas pada wartawan, tetapi juga mencakup pekerja media, penulis independen, konten kreator, koresponden lepas, hingga aktivis media sosial yang berkontribusi bagi kepentingan publik.
Secara organisasi, RAPJI membuka ruang pembentukan kepengurusan di berbagai daerah di Indonesia agar advokasi dan solidaritas terhadap jurnalis dapat dilakukan lebih dekat dengan persoalan nyata di lapangan.
Pendekatan ini, menurut Heryanson, penting agar perjuangan pers tidak terpusat di kota-kota besar saja, melainkan juga menjangkau wilayah-wilayah yang tengah menghadapi krisis dan bencana.
Di Tapanuli Selatan, RAPJI dijadwalkan akan mendeklarasikan pendiriannya pada 10 Februari 2026, sehari setelah peringatan Hari Pers Nasional. Namun, ia menegaskan bahwa deklarasi tersebut bukan sekadar seremoni.
“Yang utama adalah keberpihakan pada jurnalis dan pekerja media yang tetap bekerja di tengah keterbatasan dan risiko. Dari Tapanuli Selatan, kami ingin memulai perjuangan itu,” pungkas Heryanson.
















