Banda Aceh | Tubinnews.com – Memasuki awal tahun 2026, Museum Tsunami Aceh menghadirkan berbagai pembaruan berbasis digital yang menarik perhatian wisatawan. Salah satunya ruangan pameran tetap yang kini menjadi spot favorit pengunjung, terutama generasi muda.
Di lansir dari website Museum Tsunami Aceh, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh telah melakukan soft launching program pengembangan museum berbasis digital di Banda Aceh, pada Rabu, 31 Desember 2025. Program ini menandai langkah museum dalam mengintegrasikan teknologi visual dan interaktif sebagai media edukasi mitigasi bencana.
Salah satu pembaruan paling mencolok terdapat pada ruangan pameran tetap. Di ruangan ini, pengunjung disuguhkan simulasi visual gelombang tsunami sejak awal memasuki area ruangan tersebut. Konsep ini dirancang agar pengunjung dapat merasakan pengalaman seolah berada di bawah arus dan gelombang tsunami. Staf ruangan pameran tetap, Sauri, mengatakan antusiasme pengunjung terhadap pembaruan tersebut cukup tinggi.
“Untuk antusias pengunjung sendiri cukup baik, karena di ruangan ini memang ada beberapa pembaruan. Di bagian awal masuk, kita simulasikan seperti berada di bawah arus atau gelombang tsunami,” ujar Sauri kepada TubinNews saat di temui di Museum Tsunami Aceh, Minggu, (11/01/2026).
Ia menjelaskan pembaruan ini bertujuan memberikan pengalaman yang lebih mendalam kepada pengunjung agar dapat memahami bagaimana peristiwa tsunami terjadi. Ide pengembangan ruangan pameran tersebut diinisiasi oleh Kepala Dinas Pariwisata Aceh bersama Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh.
Transformasi digital ini juga berhasil menarik minat wisatawan, banyak yang mengabadikan momen ditempat tersebut dan mengunggah ke media sosial. Alya, mahasiswa Universitas Abulyatama, salah satu wisatawan mengatakan ia mengetahui pembaruan spot ruangan pameran tetap dari media sosial.
“Tahu spot baru ini dari TikTok dan media sosial. Karena nggak tahu mau ke mana, jadi memutuskan ke sini. Bagian pameran tetap ini memang spot yang kami tunggu-tunggu,” ungkapnya.
Alya menambahkan pembaruan ruangan pameran tetap tersebut sudah tampil lebih menarik dan modern.
“Pengalamannya kesini bagus, keren, dan berbeda eda dari sebelumnya,” tambahnya.
Dengan pembaruan ini, Museum Tsunami Aceh tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga diarahkan menjadi pusat riset, teknologi, dan edukasi mitigasi bencana yang relevan dengan perkembangan zaman.

















