Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ لله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بعْدُ : فَيَاعِبَادَاللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن:
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيْم , اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (النمل: ٨٩-٩٠)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan pemberi segala nikmat dan karunia yang tak terhingga jumlahnya. Dzat yang menakdirkan segala sesuatu penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga. Dzat yang Maha Menguasai segala isi langit dan bumi dan di antara keduanya. Dzat yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dzat Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk-Nya.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segenap keluarga dan sahabatnya, para pejuang yang gigih berjuang, serta pengikutnya yang istiqamah menegakkan sunnahnya hingga akhir jaman.
Senantiasa khatib menyampaikan wasiat kepada hadirin untuk menjaga dan meningkatkan takwa kepada-Nya. Takwa dalam arti menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seala larangan-Nya. Takwa dalam arti taat kepada Allah dengan tidak memaksiati-Nya. Takwa dalam arti ingat kepada Allah dengan tidak melupakan-Nya. Dan takwa dalam arti syukur kepada Allah dengan tidak mengkufuri-Nya.
Hadirin yang dirahmati oleh Allah,
Bulan suci Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Berbagai amal ibadah dan kebaikan telah kita lakukan di bulan penuh berkah tersebut. Lantas, apa yang perlu kita lakukan dalam sebelas bulan ke depan? Apakah berbagai kebiasaan baik di bulan Ramadhan dapat terus berlanjut dan melekat pada diri kita? Seharusnya memang begitu, karena tujuan kita berpuasa di bulan Ramadhan adalah agar menjadi orang yang bertakwa.
Sebelum Ramadhan datang, kita selalu menantinya dengan penuh kerinduan. Setelah ia pergi meninggalkan kita, saatnya kini kita bermuhasabah dan mengingat kembali apa yang telah kita lakukan pada bulan yang penuh keberkahan itu. Apabila kita telah beramal dengan baik selama Ramadhan, marilah kita pertahankan dan tingkatkan setelah Ramadhan. Jika kita termasuk orang-orang yang lalai dalam melakukan kewajiban atau teledor dalam menjauhi larangan selama Ramadhan, marilah kita segera bertaubat dengan taubatan nashuha. Segeralah kita perbaiki diri sebelum maut menjemput.
Meskipun bulan yang penuh ampunan, rahmah, dan pelipatgandaan pahala ini telah berlalu, namun waktu untuk melakukan kebaikan tidaklah pernah berlalu kecuali dengan kematian. Shiyam dan qiyam tetap dianjurkan sepanjang tahun. Puasa dan berbagai ibadah lainnya tetap diperintahkan di luar Ramadhan. Islam memberikan kesempatan kepada kita untuk meneruskan dan melestarikan ibadah puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada kita untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal dalam sabdanya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
Selain itu, ada juga puasa sunnah Senin-Kamis, puasa sunnah tiga hari (al-ayyam al-bidh) pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan, serta beberapa puasa sunnah lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan agar kita melakukan shalat malam sepanjang tahun, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Beliau bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ)
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud).
Segeralah kita terus berbuat baik dan melakukan berbagai ketaatan. Selagi masih muda, manfaatkanlah masa muda untuk berbuat baik sebelum tua. Selagi sehat, manfaatkanlah masa sehat untuk berbuat baik sebelum sakit. Selagi masih ada kesempatan, manfaatkanlah waktu yang tersedia sebelum datang kesibukan dan kesempitan. Selagi hidup, manfaatkanlah kehidupan ini untuk berbuat baik sebelum kematian datang menjemput.
Dunia adalah tempat untuk beramal, sedangkan akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkan amal. Penyesalan di akhirat tiada guna. Jangan sampai kita tergolong dalam mereka yang berkata di akhirat:
يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ الله (الزمر: ٥٦)
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban kepada Allah.” (QS Az-Zumar: 56)
Atau termasuk mereka yang ketika melihat azab berkata:
لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (الزمر: ٥٨)
“Seandainya aku dapat kembali ke dunia, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS Az-Zumar: 58)
Atau mereka yang ketika diazab di neraka berkata:
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ (فاطر: ٣٧)
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari neraka, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan dahulu.” (QS Fathir: 37)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hendaklah kita senantiasa menjaga dan terus mengerjakan apa yang Allah wajibkan kepada kita. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:
ومَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR Al-Bukhari)
Hadirin yang berbahagia,
Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menjaga diri dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh dari satu biji kurma? Bukankah beliau juga menceritakan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim tentang seorang perempuan pezina yang diampuni dosanya karena menolong seekor anjing yang sedang kehausan?
Jangan pula meremehkan dosa dan maksiat dengan dalih bahwa itu hanya dosa kecil. Sebab, dosa kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membuka jalan menuju dosa besar, dan dosa besar adalah perantara menuju kekufuran. Seseorang yang terus-menerus melakukan dosa besar dikhawatirkan akan mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzu billahi min dzalik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ (رواه الطبراني)
“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil.” (HR Ath-Thabarani)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Setelah Ramadhan, marilah kita perkuat iman dengan terus istiqamah dalam berbuat kebaikan. Iman akan menguat seiring banyaknya kebaikan yang dilakukan dan akan melemah dengan banyaknya maksiat yang dikerjakan. Sedikit amal yang dilakukan secara istiqamah lebih baik daripada banyak tetapi tidak berkelanjutan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
“Sebaik-baik perbuatan menurut Allah adalah yang dirutinkan meskipun sedikit.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Terakhir, jangan pernah bosan dan merasa cukup dengan ilmu agama yang telah dipelajari. Setelah Ramadhan, kita lanjutkan bermajelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَشْبَعُ مُؤْمِنٌ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُوْنَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرمِذِيُّ)
“Seorang mukmin tidak semestinya merasa puas dengan kebaikan yang ia dengarkan hingga kehidupannya berujung masuk ke dalam surga.” (HR Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Demikian khutbah singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II