Deli Serdang | Tubinnews.com – Gelombang protes besar terjadi di Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Deli Serdang. Ribuan warga turun menyuarakan penolakan terhadap kebijakan kepala desa yang dinilai lebih mengedepankan kepentingan pribadi dalam program pembangunan desa.
Aksi tersebut terlihat dari banyaknya spanduk yang terpasang di berbagai titik, khususnya di sekitar lapangan sepak bola Dusun V. Spanduk-spanduk itu berisi penolakan tegas terhadap rencana pembangunan di lokasi yang selama ini menjadi satu-satunya fasilitas olahraga masyarakat.
Pantauan jurnalis di lapangan, warga juga membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan kolektif terhadap kebijakan kepala desa yang dianggap tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Salah satu warga, Andre, menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan, termasuk rencana pembangunan Koperasi Merah Putih. Namun, ia meminta agar proyek tersebut tidak dilakukan di lapangan sepak bola.

“Kami tidak menolak pembangunan koperasi merah putih, tapi silakan cari lahan lain. Jangan di lapangan sepak bola, itu satu-satunya aset desa yang kami punya,” ujarnya.
Warga juga menilai kepemimpinan kepala desa selama hampir tiga tahun terakhir belum menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan, muncul dugaan adanya kepentingan bisnis pribadi di balik rencana pembangunan tersebut.
“Kalau tidak bisa membangun, setidaknya jangan menghancurkan. Kami lihat hampir tiga tahun menjabat, belum ada yang nyata. Padahal dulu sempat berjanji membangun sekolah sepak bola (SSB),” tambah Andre.
Aksi protes ini menjadi sorotan karena menyangkut penggunaan dana desa yang dinilai tidak transparan dan minim pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah, Bupati Deli Serdang, Asriluddin Tambunan, belum memberikan keterangan rinci terkait persoalan tersebut.
“Kabari saja nanti ya,” ujarnya singkat kepada jurnalis.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kepala Desa Cinta Rakyat terkait tuntutan warga. Situasi di lokasi dilaporkan masih kondusif, meski warga tetap bersikukuh meminta kebijakan pembangunan ditinjau ulang.














