Pidie | TubinNews.com – Penggunaan alat masak tradisional wajan tanah liat kini semakin jarang diminati masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada pedagang kecil di Pasar Beureunuen.
“Kami mulai kesulitan mencari pembeli sekarang. Apalagi banyak peralatan dapur modern berbahan logam dan teflon yang lebih diminati karena tidak mudah pecah,” ujar Salah satu pedagang di Gampong Are, Nurmala (53) saat diwawancarai, Senin (09/03/2026).
Ia mengaku setiap hari harus menempuh perjalanan menggunakan becak demi menjajakan dagangannya di sudut pasar. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat membuat pendapatannya tidak menentu.
“Seringkali seharian saya duduk di sini, tapi dagangan tidak laku,” ungkapnya.
Nurmala menjelaskan bahwa wajan buatannya memiliki keunggulan dari sisi kesehatan karena terbuat dari bahan alami tanpa campuran kimia logam. Menurutnya, proses pembuatan wajan ini cukup rumit karena tanah liat harus diadon dengan campuran sedikit pasir sebelum dibentuk dan masuk ke tahap pembakaran tradisional.
“Ini wajan terbuat dari bahan alami. Kalau kita masak pakai ini bisa terhindar dari penyakit,” tambahnya.
Meski proses produksinya memakan waktu dan tenaga, harga yang ditawarkan tetap sangat terjangkau. Nurmala mematok harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp30.000 per buah, tergantung pada ukuran wajan yang tersedia.
“Kami akan tetap bertahan menjajakan dagangan di Pasar Beureunuen dengan harapan masih ada pembeli yang datang mencari alat masak tradisional tersebut,” lanjutnya.
















