Banda Aceh | TubinNews.com – Rumoh Pangan Aceh terus mengembangkan Kacang Koro sebagai bahan pangan alternatif pengganti kedelai impor. Program pemberdayaan ini tercatat telah berjalan selama satu tahun terakhir.
Direktur Eksekutif Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, mengungkapkan bahwa saat ini Kacang Koro telah ditanam oleh 85 petani yang tersebar di empat kabupaten di Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Simeulue, dan Aceh Selatan.
“Kacang Koro ini sebenarnya sudah setahun kita jalankan. Petaninya sudah ada dan mereka aktif menanam,” ujar Rivan kepada TubinNews, Minggu (11/01/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan Kacang Koro merupakan langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor yang selama ini didominasi dari Amerika Serikat, Kanada, Argentina, dan Brasil. Menurutnya, kedelai lokal sulit bersaing di pasar, sehingga diperlukan alternatif komoditas lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
“Karena kedelai kita sulit bersaing dengan kedelai impor, kita cari alternatif lain, salah satunya Kacang Koro,” tambahnya.
Saat ini, seluruh hasil panen petani dibeli langsung oleh Rumoh Pangan Aceh untuk diolah menjadi produk turunan seperti tempe dan keripik tempe. Ke depan, pengolahan akan diperluas ke produk tepung, biskuit, dan olahan lainnya.
Rivan menambahkan bahwa program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan NGO internasional untuk membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Salah satu bentuk konkretnya adalah pengoperasian Rumah Tempe di kawasan Alue Naga yang memberdayakan ibu-ibu desa setempat.
“Tempe Koro ini adalah produk sehat, organik, dan lokal. Yang terpenting, produk ini non-GMO (Genetically Modified Organism), sehingga lebih aman bagi kesehatan dibandingkan bibit rekayasa genetika yang berisiko memicu penyakit,” tegas Rivan.
Melalui program ini, Rumoh Pangan Aceh berharap dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat perdesaan di Aceh.









