Percut Sei Tuan | Tubinnews.com —
Gelombang protes besar mengguncang Desa Cinta Rakyat, Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ribuan warga turun langsung menyuarakan penolakan terhadap kebijakan kepala desa yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi.
Aksi penolakan ini terlihat jelas dari banyaknya spanduk yang terpasang di sejumlah titik strategis desa, khususnya di sekitar lapangan sepak bola Dusun V.
Spanduk-spanduk tersebut berisi pesan tegas penolakan terhadap rencana pembangunan yang akan menggunakan lahan tersebut—yang selama ini menjadi satu-satunya fasilitas olahraga warga dan aset Desa.
Tak hanya memasang spanduk, warga juga membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan kolektif. Mereka menilai kebijakan pembangunan dilakukan tanpa transparansi serta minim pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

Salah satu warga, Yoga menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan, termasuk rencana pembangunan Koperasi Merah Putih. Namun, ia meminta agar proyek tersebut tidak dilakukan di lapangan sepak bola.
“Kami tidak habis pikir buruknya kepemimpinan kades dan kami tidak menolak pembangunan koperasi merah putih, tapi silakan cari lahan lain. Jangan di lapangan sepak bola, itu satu-satunya aset desa yang kami punya,” tegasnya Pada Sabtu 21 Maret 2026.
Kekecewaan serupa juga disampaikan kalangan pemuda desa. Ratusan pemuda yang turut bersuara menilai kepemimpinan kepala desa selama hampir tiga tahun terakhir tidak menunjukkan perubahan berarti.
Yoga juga menyebut berbagai kebijakan yang diambil dinilai lebih condong pada kepentingan pribadi dan bisnis, tanpa melalui musyawarah dengan masyarakat.
“Kalau tidak bisa membangun, setidaknya jangan menghancurkan. Hampir tiga tahun menjabat, tidak ada perubahan yang nyata. Lebih banyak janji-janji manis,” ungkapnya.
Warga juga menyinggung janji kepala desa sebelumnya yang akan membangun Sekolah Sepak Bola (SSB), namun hingga kini belum terealisasi. Kondisi ini semakin memperkuat kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang dinilai tidak transparan dan tidak akuntabel.
Aksi protes ini pun menjadi sorotan luas karena menyangkut dugaan penggunaan dana desa yang tidak terbuka serta tidak melibatkan partisipasi publik.
Terpisah Kepala Desa Cinta Rakyat saat dikonfirmasi pergi meninggalkan wartawan dan mengacungkan jempol kepada ribuan warga dan meninggalkan lokasi tanpa memberikan keterangan.














