Narasi mengenai sosok Nabi Muhammad SAW sering kali berfokus pada kemuliaan akhlak dan kedalaman spiritualitasnya. Namun, ada satu sisi yang jarang dikupas tuntas, yaitu kekuatan fisik beliau yang luar biasa tangguh. Dalam catatan sejarah Islam, terselip kisah epik tentang Rukana, seorang jawara gulat Arab yang tak pernah terkalahkan. Dengan sombongnya, ia menantang Rasulullah berduel.
Namun, sejarah mencatat kejutan besar. Hanya dalam hitungan detik, Rasulullah berhasil menghempaskan sang juara ke tanah. Tak percaya, Rukana minta tanding ulang hingga tiga kali. Hasilnya tetap sama, Rasulullah mengunci dan menjatuhkannya dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi lawan. Kekuatan ini bukan sekadar otot, melainkan buah dari pola hidup yang terjaga.
“Ketangguhan Rasulullah itu berakar pada tiga prinsip utama, La Tahi (Jangan Lemah), La Tahzan (Jangan Bersedih), dan La Takhaf (Jangan Takut),” Tgk. Irwan Syahputra dalam pemaparannya di Mesjid Al-‘Ala, Banda Aceh pada (01/03/2026)
Standar Kebugaran Sang Rasul
Untuk memahami standar fisik ideal seorang Muslim, kita bisa menilik kesaksian Ummul Hani, saudara sepupu Rasulullah. Saat ditanya mengenai fisik Nabi, jawabannya sangat ikonik. Ia menyebut perut Rasulullah layaknya “lipatan kertas” atau dalam redaksi lain disebut “gulungan kertas”.
Secara anatomis, istilah ini menggambarkan perut yang sangat tipis tanpa timbunan lemak, namun memiliki otot yang padat dan kuat atau yang kini populer dengan istilah six-pack. Kondisi fisik ini mustahil didapat tanpa disiplin makan yang ketat. Tgk. Irwan menyentil kebiasaan modern dengan sebuah perbandingan tajam.
“Bedanya kita dengan Nabi cuma sedikit. Nabi sedikit makan, kalau kita sedikit-sedikit makan. Pola konsumsi berlebih inilah yang menjadi akar melemahnya fisik umat masa kini,” ucapnya
Perut Perlu Istirahat
Masuknya ibadah puasa bukan sekadar ujian menahan lapar, melainkan mekanisme servis total bagi tubuh. Secara medis, lambung membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mengolah satu kali makan besar. Jika kita makan tiga kali sehari ditambah berbagai camilan di sela-selanya, maka organ tubuh seperti jantung, lambung, hati, hingga ginjal praktis bekerja 24 jam tanpa henti seumur hidup.
“Jantung dan ginjal kita bisa bertahan puluhan tahun tanpa rusak asalkan diberi waktu istirahat,” jelas Tgk. Irwan.
Puasa, lanjutnya, selama minimal 12 jam adalah momen “hibernasi” bagi sistem pencernaan. Saat asupan terhenti, beban kerja organ menurun drastis, memberi ruang bagi tubuh untuk mengaktifkan mode regenerasi sel dan memperbaiki jaringan yang rusak secara mandiri.
Sains di Balik Lapar: Waktu Tubuh ‘Memangsa’ Penyakit
Kaitan antara puasa dan kesehatan bukan lagi sekadar klaim agama, melainkan fakta sains yang diakui dunia melalui konsep Autofagi. Fenomena yang membawa Profesor Yoshinori Ohsumi meraih Nobel ini menjelaskan bahwa ketika sel tubuh lapar, mereka akan mencari dan “memangsa” komponen sel yang rusak, racun, hingga protein sampah yang berpotensi menjadi sel kanker.
Puasa mengubah tubuh menjadi mesin pembersih otomatis. Inilah esensi dari sabda Nabi, Shumu tashihhu (Berpuasalah maka kamu akan sehat). Puasa bukan untuk menyiksa, melainkan cara Allah menyelamatkan hamba-Nya dari tumpukan racun yang kita masukkan sendiri lewat makanan.
Mengukur Keberhasilan Puasa
Menutup pemaparannya, Tgk. Irwan memberikan peringatan keras mengenai gaya hidup 3F (Food, Fashion, Fun) yang menjebak masyarakat modern. Ia berpesan agar umat Islam tidak menjadikan perutnya sebagai “kuburan binatang” tempat di mana segala jenis daging dan lemak ditumpuk tanpa kendali saat waktu berbuka tiba.
“Udah makan udang, makan lagi daging, lanjut lagi makan-makanan lain dalam satu waktu. Itulah sebutan untuk perut kuburan binatang.”
Menurutnya, puasa yang benar secara biologis seharusnya menurunkan berat badan antara 1% hingga 4%. Sangat ironis jika setelah sebulan berpuasa, lingkar pinggang justru bertambah.
Puasa Sebagai Kebutuhan, Bukan Beban
Pada akhirnya, Islam tidak hanya menginginkan umat yang cerdas secara pikiran dan jernih secara hati, tapi juga tangguh secara fisik. Kekuatan Rukana mungkin legendaris, namun kekuatan Rasulullah adalah standar yang harus kita tuju. Dengan memahami bahwa puasa adalah cara Allah menyayangi raga kita, maka lapar dan haus tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai proses pembersihan menuju pribadi yang lebih sehat.
Melalui Ramadhan kali ini, mari kita kembalikan martabat fisik Muslim yang sehat, cekatan, dan jauh dari penyakit. Sebab, raga yang kuat adalah rumah terbaik bagi jiwa yang taat.

















