Banda Aceh | TubinNews.com – Rumah Dakwah Kampus (RDK) Universitas Syiah Kuala menggelar kegiatan Marriage Edu-Fest bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Kegiatan ini membahas berbagai aspek, mulai dari kesiapan mental sebelum menikah, komunikasi dalam hubungan, hingga perencanaan finansial,” ujar Narasumber kegiatan, Ichsan Al Basith, Jumat (06/03/2026).
Ia menyoroti pentingnya keberanian dalam mengambil langkah menuju pernikahan serta meninggalkan budaya pacaran yang dinilai tidak memberikan arah yang jelas bagi hubungan.
“Jangan takut untuk menikah. Salah satu hal yang paling konyol dilakukan manusia hari ini adalah pacaran, karena tidak ada nilai tambah yang jelas dari hubungan itu,” ujarnya.
Ichsan juga menjelaskan bahwa sebelum menikah, seseorang perlu mempersiapkan diri secara mental dan emosional. Menurutnya, banyak anak muda belum matang dalam mengelola emosi dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
“Khawatir terhadap kondisi finansial sering kali menjadi alasan utama menunda pernikahan. Padahal, rezeki dapat datang dengan berbagai cara ketika seseorang sudah berusaha dan bertawakal,” sambungnya.
Sementara itu, Prof. Ilham Maulana dalam materinya membahas pentingnya komunikasi yang sehat dalam hubungan serta perencanaan finansial yang matang sebelum menikah.
“Kesiapan psikologis, kesehatan reproduksi, serta perencanaan keluarga sebelum memasuki kehidupan pernikahan adalah hal yang sangat penting,” lanjutnya.
Salah satu peserta, Siti Afra, mengaku kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa yang ingin memahami lebih jauh tentang persiapan pernikahan.
“Kegiatan Edu Marriage ini cukup bermanfaat karena kami bisa belajar tentang persiapan pernikahan sekaligus mendengar pengalaman dari para narasumber. Dari situ kami jadi memahami bahwa tidak semua pernikahan berakhir buruk,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam kegiatan tersebut peserta diajak memahami aspek psikologis sebelum menikah melalui sesi evaluasi mental yang dipandu oleh narasumber.
“Edu Marriage juga ada pembahasan psikologi. Narasumber membantu mengevaluasi kondisi mental peserta untuk melihat apakah seseorang sudah siap menikah atau masih perlu mempersiapkan diri lebih matang,” tambahnya.

















