Banda Aceh | TubinNews.com – Pemerintah Indonesia mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) sebagai langkah alternatif. Kebijakan ini diambil setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Israel dan AS.
“Kita mencari alternatifnya di Amerika. Untuk bisa menutupi apa yang ada pada dua kargo ini,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (6/3/2026).
Gangguan distribusi minyak terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, kondisi ini berdampak karena sekitar 19 persen impor minyak nasional selama ini melewati jalur tersebut.
“Dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) masih di wilayah Teluk Persia karena kondisi keamanan yang belum stabil,” ucap menteri ESDM.
Bahlil mengatakan kedua kapal tersebut saat ini memilih bersandar sambil menunggu situasi yang lebih aman.
“Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya,” ungkapnya.
Selain mencari sumber impor baru, pemerintah juga menyoroti keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak di dalam negeri. Saat ini, kapasitas cadangan BBM nasional hanya mampu menampung sekitar 25 hingga 26 hari.
“Ya bertahap itu kan bertahap, enggak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage, makanya kami mau buat sekarang storage, kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir,” jelasnya.
Ia menambahkan pemerintah berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan tersebut hingga mencapai sekitar 90 hari atau tiga bulan agar sesuai dengan standar internasional.
“Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” pungkasnya.









