Aceh | TubinNews.com – Umat Muslim di seluruh dunia kembali menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Di tengah rangkaian ibadah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, sahur menjadi salah satu sunnah yang memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pelaksanaannya tidak harus dengan hidangan berlimpah, bahkan cukup dengan seteguk air.
“Bersahurlah walaupun hanya dengan seteguk air,” (HR. Ahmad).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa sahur tidak diukur dari banyaknya makanan yang dikonsumsi. Nilainya terletak pada kesungguhan mengikuti sunnah sebelum masuk waktu Subuh.
Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu kajiannya menerangkan bahwa sahur dilakukan pada waktu sahar, yakni menjelang terbit fajar yang memiliki nilai keutamaan.
“Sahur dilakukan di waktu sahar yang memiliki keutamaan. Di waktu itu dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan doa,” ungkapnya.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur. Dalam hadis yang diriwayatkan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, beliau bersabda:
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur,” (HR. Sahih Muslim).
Hadis tersebut mempertegas bahwa sahur merupakan bagian dari tuntunan ibadah puasa yang diajarkan Rasulullah SAW sekaligus menjadi ciri khas pelaksanaan puasa umat Islam.
Dalam riwayat Sahih Bukhari juga disebutkan bahwa jarak antara sahur Nabi dan salat Subuh sekitar waktu membaca 50 ayat Al-Qur’an. Riwayat ini menunjukkan bahwa sahur dilakukan mendekati waktu Subuh.
Sederhana dalam pelaksanaan, namun besar dalam makna, sahur menjadi salah satu cara umat Muslim menjemput keberkahan sebelum memulai puasa seharian penuh.

















