Aceh Barat | TubinNews.com – Di saat banyak negara di dunia masih bergulat dengan konflik berbasis agama dan identitas, Indonesia justru dihadapkan pada ujian lain yang tak kalah berat: bencana kemanusiaan.
Awal tahun 2026, banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan warga terdampak, rumah terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, dan duka menyelimuti masyarakat. Di tengah situasi ini, Indonesia memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju.”
Momentum HAB ke-80 kali ini terasa lebih bermakna. Ia tidak hanya menjadi perayaan institusional, tetapi juga cermin nyata bagaimana nilai-nilai kerukunan dan sinergi diuji dalam kondisi krisis. Bencana alam kembali mengingatkan kita bahwa di hadapan musibah, sekat-sekat agama, suku, dan identitas sosial kehilangan relevansinya. Yang tersisa hanyalah kemanusiaan.
Bencana sebagai Cermin Sinergi Umat
Banjir yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar memperlihatkan wajah terbaik Indonesia. Relawan lintas agama turun ke lapangan, rumah ibadah difungsikan sebagai posko pengungsian dan bantuan kemanusiaan mengalir tanpa menanyakan latar belakang keyakinan korban.
Di titik inilah toleransi menemukan bentuk paling nyata: bukan sekadar saling menghormati, tetapi saling menolong.
Namun, refleksi HAB ke-80 mengajak kita melangkah lebih jauh. Toleransi yang muncul saat bencana tidak boleh bersifat insidental. Ia harus diinstitusionalisasikan menjadi sinergi berkelanjutan. Bencana alam, sesungguhnya, adalah pengingat keras bahwa tantangan bangsa ke depan bukan hanya konflik ideologis, tetapi juga krisis ekologis dan kemanusiaan yang menuntut kolaborasi lintas iman dan lintas sektor.
Dari Toleransi Menuju Sinergi yang Produktif
Selama delapan dekade, Kementerian Agama telah menjadi penjaga harmoni kehidupan beragama. Namun, di era perubahan iklim, disrupsi digital, dan meningkatnya frekuensi bencana alam, peran tersebut perlu diperluas.
Kerukunan tidak cukup dimaknai sebagai hidup berdampingan secara damai, tetapi harus diterjemahkan dalam kerja bersama menghadapi persoalan nyata umat.
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Spirit ini menemukan relevansinya ketika umat beragama bersatu membantu korban banjir, menggalang donasi, dan memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.
Dengan lebih dari 270 juta penduduk yang majemuk, Indonesia memiliki modal sosial luar biasa untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan respons kemanusiaan.
Peran Strategis Kementerian Agama di Tengah Krisis
Memasuki usia 80 tahun, Kementerian Agama berada di persimpangan penting. Selain menjaga kualitas kehidupan beragama dan menangkal radikalisme, Kementerian Agama juga dituntut berperan aktif dalam penguatan solidaritas sosial, khususnya saat bencana terjadi.
Program moderasi beragama yang selama ini digaungkan menemukan konteks praksisnya di lapangan. Nilai wasathiyyah dalam Islam, Majjhima Patipada dalam Buddhisme, Tri Hita Karana dalam Hindu, ajaran kasih dalam Kristen, serta Zhong Yong dalam Konghucu, semuanya bermuara pada kepedulian dan keseimbangan.
Ketika nilai-nilai ini diwujudkan dalam aksi kemanusiaan bagi korban banjir, moderasi beragama tidak lagi berhenti di ruang diskusi, tetapi hidup di tengah masyarakat.
Ke depan, Kementerian Agama perlu mendorong sinergi yang lebih sistematis: jejaring relawan lintas agama untuk kebencanaan, pemanfaatan rumah ibadah sebagai pusat mitigasi dan pemulihan trauma, serta pengelolaan dana keagamaan yang transparan untuk respons darurat dan rehabilitasi pascabencana.
Sinergitas umat adalah solusi untuk membangun Indonesia yang Tangguh
Bencana banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar menegaskan satu hal: Indonesia tidak hanya membutuhkan kerukunan untuk damai, tetapi juga sinergi untuk bertahan dan bangkit. Negara-negara yang rapuh oleh konflik internal terbukti sulit merespons krisis kemanusiaan.
Sebaliknya, bangsa yang solid mampu menjadikan musibah sebagai momentum memperkuat persatuan.
Tradisi gotong royong yang mengakar dalam budaya Indonesia harus terus dihidupkan dalam konteks lintas agama. Masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga simpul solidaritas sosial.
Ketika bencana datang, tempat-tempat ibadah dapat menjadi ruang perlindungan, penguatan mental, dan pusat koordinasi bantuan.
Peringatan HAB Kementerian Agama ke-80 di tengah bencana banjir adalah panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa. Delapan dekade perjalanan Kementerian Agama harus dimaknai sebagai komitmen berkelanjutan untuk merawat iman, memperkuat kemanusiaan, dan membangun sinergi umat.
Bencana alam telah mengajarkan bahwa kerukunan sejati lahir dari aksi nyata, bukan sekadar slogan. Saatnya menjadikan sinergi umat sebagai fondasi Indonesia yang damai, tangguh, dan maju.
Mari kita jadikan refleksi HAB ke-80 bukan hanya peringatan tahunan, tetapi energi kolektif untuk saling menguatkanterutama bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur semoga Indonesia senantiasa menjadi negeri yang baik, diberkahi, dan dilindungi Tuhan Yang Maha Pengampun.
Oleh: Dr. Erizar,M.Ed (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)















