Sinabang | TubinNews.com – Simeulue adalah pulau kecil di Samudra Hindia yang kehidupannya sangat bergantung pada alam. Hutan di Simeulue bukan hanya kumpulan pohon, tetapi berfungsi sebagai benteng alami yang menjaga keseimbangan lingkungan. Dari hutan inilah sumber air bersih berasal, tanah tetap subur, dan masyarakat terlindungi dari ancaman banjir serta longsor.
Dalam beberapa tahun terakhir, luas hutan Simeulue terus berkurang. Penebangan dan pembukaan lahan sering dilakukan dengan alasan peningkatan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja. Sekilas, langkah ini terlihat menjanjikan. Namun, dampak yang muncul justru menunjukkan persoalan baru yang lebih besar. Ketika pohon ditebang, tanah kehilangan kemampuan menahan air. Saat hujan turun deras, air langsung mengalir ke sungai, membawa lumpur menuju laut.
Akibatnya, sungai menjadi keruh dan terumbu karang tertutup sedimen. Kondisi ini membuat ikan menjauh dari pesisir, sehingga nelayan kesulitan mendapatkan hasil tangkapan. Di darat, banjir dan longsor akan merusak kebun serta lahan pertanian.
Kerusakan hutan juga berdampak langsung pada satwa liar. Buaya muara kehilangan habitat sungai dan rawa, burung rangkong serta burung hutan kehilangan tempat bersarang, sementara kera ekor panjang dan reptil rawa terpaksa masuk ke kebun dan permukiman warga. Satwa endemic yang semakin punah dan berkuranag, Konflik antara manusia dan satwa pun semakin sering terjadi, bukan karena satwa menjadi “liar”, tetapi karena ruang hidup mereka menyempit.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pembangunan seperti ini benar-benar membawa kesejahteraan? Jika manfaat ekonomi hanya dirasakan sementara, sementara kerusakan alam ditanggung masyarakat dalam jangka panjang.
Pulau yang sekecil ini tidak ada tempat berlari jika terjadi bencana, Longsor, Banjir Bandang, dan Gempa Bumi.
Simeulue kini berada di persimpangan. Pilihannya jelas: melanjutkan pembangunan yang mengorbankan hutan, atau membangun ekonomi yang selaras dengan alam. Menjaga hutan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa kehidupan manusia dan satwa tetap terjaga hingga generasi mendatang.
Simeulue ada di persimpangan: Hutan atau keuntungan sesaat? Pilihannya ada di tangan Kita.
















