Sinabang | TubinNews.com – Ketua DPRK Simeulue Rasmanudin H. Rahamin menegaskan pentingnya mengganti penggunaan istilah tsunami dengan SMONG, kearifan lokal masyarakat Simeulue yang telah terbukti menyelamatkan ribuan nyawa dan diakui dunia.
Pernyataan itu disampaikan Rasman saat menerima Panitia Zikir dan Kenduri serta Peringatan Hari Tsunami Aceh dari Mukim Batu Berlayar, Kecamatan Teupah Selatan, yang datang untuk berkoordinasi terkait agenda tahunan.
Dengan nada bercanda namun serius, Rasman langsung mengoreksi istilah yang digunakan panitia.
“Saya ini marah, kenapa masih pakai kata tsunami? Kenapa bukan SMONG?” kata Rasman.
SMONG Bukan Sekadar Istilah
Menurut Rasman, SMONG bukan hanya istilah lokal, melainkan pengetahuan mitigasi bencana berbasis budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Simeulue.
“Kalau bukan kita yang mempopulerkan SMONG, siapa lagi? Ini soal kebanggaan dan perubahan cara berpikir,” ujarnya.
Ia menilai penggunaan istilah tsunami justru menempatkan masyarakat sebagai korban, sementara SMONG merepresentasikan kesadaran, kesiapsiagaan, dan kecerdasan lokal.
Bahasa smong sudah diakui PBB, Masuk buku KBBI
Rasman menegaskan bahwa SMONG telah mendapatkan pengakuan internasional, termasuk sertifikasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, kata SMONG juga telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), meski ia mengakui masih terdapat kekeliruan dalam penulisan.
Soal penulisan itu sudah saya sampaikan ke editornya. Tapi yang terpenting sekarang, kita konsisten menggunakan SMONG, kata Rasman.
Keseriusan Rasman memperjuangkan SMONG, menurut dia, telah berlangsung lama. Rasman Getol membawa narasi SMONG ke berbagai forum, termasuk saat melakukan perjalanan ke tujuh negara di Eropa, serta menjadikannya sebagai topik tesis S2.
“SMONG ini bukan cerita lokal. Ini pengetahuan dunia yang lahir dari Simeulue,” ujarnya.
Perwakilan panitia, Ali Hamdan, mengakui penggunaan istilah tsunami selama ini dilakukan tanpa kajian mendalam.
“Baru kali ini kami dikoreksi langsung. Kami sepakat, mulai sekarang spanduk dan materi kegiatan akan menggunakan istilah SMONG,” katanya.
Menuju Event SMONG
Rasman mendorong agar peringatan tahunan tersebut dikembangkan menjadi Event SMONG yang terstruktur dan berkelanjutan.
Ia menilai kegiatan zikir dan kenduri tetap dapat dipertahankan sebagai inti acara, namun dikombinasikan dengan unsur budaya dan pariwisata.
“Isinya tetap doa dan zikir. Buat penampilan yang indah, pulih pewakilan dari desa desa dg Pakaian khusus agar menarik. Ini bisa menjadi cukal bakal Evet Besar Tahunan SMONG. Kedepan bisa ditambah pameran, pementasan kisah SMONG, Nandong, dan kearifan lokal lain. Ini akan menarik wisatawan,” ujarnya.
Menurut Rasman, pendekatan tersebut sejalan dengan praktik destinasi wisata dunia yang menggabungkan budaya, sejarah, dan edukasi.
Aset Aceh dan Indonesia
Rasman menegaskan, SMONG merupakan warisan masyarakat Simeulue yang harus dijaga dan dikembangkan.
“Tidak mungkin orang luar yang memulai SMONG. Ini lahir dari Simeulue. Ini aset Aceh dan Indonesia,” pungkasnya.
Ia berharap penggunaan istilah SMONG dapat menjadi bagian dari upaya membangun identitas Simeulue sebagai rujukan global mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
“Sebentar lagi 26 Desember, saya minta Pemda mulai tahun ini sudah menggunakan kata SMONG dalam berbagai Narasi sambutan dan media Publikasi. Mari kita hargai dengan pantas Kearifan Simeulue yang mendunia,” pungkasnya.

















